Kamis, 17 Januari 2013

0 Harry Potter and the Deathly Hallows - Bagian 2


Harry Potter and the Deathly Hallows - Bagian 2
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel ini adalah mengenai filmnya. Untuk novel yang menjadi sumber adaptasinya, lihat Harry Potter dan Relikui Kematian.
Artikel ini adalah mengenai film bagian 2. Untuk bagian 1, lihat Harry Potter and the Deathly Hallows – Bagian 1.
Harry Potter and the Deathly Hallows
Part 2

Poster resmi Harry Potter and the Deathly Hallows Bagian II.
Sutradara
Produser
Skenario
Berdasarkan
Pemeran
Musik
Sinematografi
Editing
Studio
Distribusi
Tanggal rilis
·         13 Juli 2011
(Internasional)
·         15 Juli 2011
Durasi
130 menit
Negara
Britania Raya
Amerika Serikat
Bahasa
Anggaran
$250 juta
(Bersama Bagian 1)[1]
Pendapatan kotor
$1,268,711,640 [2]
Harry Potter and the Deathly Hallows – Bagian 2 adalah film fantasi epik 2011[2][3] yang disutradarai oleh David Yates. Film merupakan adaptasi dari novel karangan J.K Rowling,Harry Potter dan Relikui Kematian dan merupakan film bagian dua. Film merupakan sekuel dari The Deathly Hallows Bagian 1. Film ini dirilis pada tanggal 13 Juli 2011.
Daftar isi
  [sembunyikan] 
·         1 Plot
·         2 Pemeran
·         3 Referensi
·         4 Pranala luar
[sunting]Plot
Cerita dimulai ketika Lord Voldemort mengambil Tongkat Sihir Elder dari makam Albus Dumbledore dan Severus Snape digambarkan telah menjadi kepala sekolah Hogwarts. Sementara, setelah memakamkan Dobby, Harry dan kedua sahabatnya kemudian berusaha mencari rencana baru. Ia menanyai Ollivander mengenai Tongkat Sihir Elder dan mendapati bahwa pemilik terakhirnya adalah Dumbledore. Harry dan kedua sahabatnya merencanakan membobol lemari besi Bellatrix Lestrange di Bank Gringott's. Mereka curiga satu horcrux tersembunyi di sana. Dibantu Griphook (dengan imbalan Pedang Godric Gryffindor), Hermione menyamar sebagai Bellatrix Lestrange dan bersama-sama Harry dan Ron memasuki lemari besi Bellatrix di Bank Gringott's. Horcrux yang dimaksudkan ternyata adalah piala Helga Hufflepuff. Namun, Griphook kemudian mengkhianati mereka dan melarikan diri dan mencuri pedang Godric Gryffindor, meninggalkan mereka terpojok oleh pihak keamanan yang merasa ditipu. Harry, Ron, dan Hermione berhasil melarikan diri dengan menaiki naga penjaga lemari besi.
Harry mendapatkan penglihatan segera setelah pelarian mereka; ia dapat melihat melalui mata Voldemort dan mengetahui pikirannya. Di dalam penglihatan tersebut, Voldemort membunuh beberapa goblin dan penjaga Bank Gringott's lainnya, termasuk Griphook. Voldemort telah mendatangi tempat-tempat Horcruxnya disembunyikan dan mengetahui bahwa mereka telah lenyap dan hancur. Secara ceroboh, Voldemort mengungkapkan bahwa Horcrux terakhir berada di Hogwarts, yang berhubungan dengan Rowena Ravenclaw. Ketiganya segera pergi ke Hogsmeade untuk mencari jalan masuk ke sekolah Hogwarts. Di Hogsmeade, kehadiran mereka membunyikan mantra pendeteksi - Caterwauling dan disudutkan oleh para Pelahap Maut. Namun, mereka diselamatkan olehAberforth Dumbledore. Aberforth membuka jalan terowongan ke Hogwarts di mana mereka disambut oleh Neville Longbottom. Tiga sekawan tersebut bertemu kembali dengan anggota Laskar Dumbledore dan memohon bantuan untuk mencari mahkota Ravenclaw.
Snape mendengar kembalinya Harry dan mengumumkan bahwa semua orang yang membantu Harry kembali, terutama siswa, akan dihukum berat. Harry kemudian muncul dan menantang Snape mengenai kematian Dumbledore, dan Minerva McGonagallmenantangnya berduel. Snape melarikan diri dan McGonagall memerintahkan seluruh Hogwarts bersiap untuk bertempur. Pada saat ini, anggota Orde Phoenix dan simpatisannya berdatangan. Atas inisiatif Luna Lovegood, Harry kemudian berbicara dengan hantu Helena Ravenclaw. Helena mengatakan bahwa Voldemort telah mengisi mahkota ibunya dengan ilmu hitam, dan menyatakan bahwa benda itu ada di Kamar Kebutuhan. Sementara, Ron dan Hermione pergi ke Kamar Rahasia. Hermione memusnahkan Piala Hufflepuff dengan taring basilisk, dan Ron dan Hermione berciuman untuk pertama kalinya. Di kamar kebutuhan, Harry dicegat oleh Draco Malfoy, Gregory Goyle, dan Blaise Zabini, namun Ron dan Hermione datang membantu Harry. Goyle menggunakan mantra api kutukan Fiendfyre namun jatuh dan mati terbakar. Draco dan Blaise diselamatkan oleh Harry, Ron, dan Hermione sebelum Harry menusuk Mahkota Ravenclaw dengan taring Basilisk dan melemparnya ke dalam kobaran api, memusnahkan mahkota itu. Sementara itu, ketika Hogwarts diserang oleh pasukan Voldemort, Harry kembali memasuki pikiran Voldemort dan menyadari bahwa ularnya, Nagini, juga adalah Horcrux. Di dalam pertempuran yang berlangsung, Fred, Lupin, Tonks, dan Lavender Brown, serta sekitar 50 orang lainnya terbunuh. Pada saat yang sama, Hermione membunuh Fenrir Greyback (pembunuh Lavender).
Di Boathouse (rumah perahu Hogwarts), mereka mendapati Voldemort membunuh Severus Snape dengan tujuan untuk mentransfer kekuatan Elder Wand kepada dirinya sendiri. Dalam sekaratnya, Snape memberikan memorinya kepada Harry. Dari memori itu terungkap bahwa Snape berada di sisi Dumbledore, didorong dengan cinta seumur hidupnya kepada Lily Potter. Snape telah diminta Dumbledore untuk membunuh dirinya jika situasinya mengharuskan demikian karena bagaimanapun juga hidupnya tidak akan lama lagi akibat kutukan yang terdapat di Horcrux Cincin Gaunt. Selanjutnya, terungkap pula bahwa Harry adalah Horcrux terakhir Voldemort, dan ia harus mati juga sebelum Voldemort dapat dibunuh. Pasrah akan nasibnya, Harry mengorbankan diri dan Voldemort melancarkan kutukan untuk membunuhnya. Tapi alih-alih membunuh Harry, kutukan itu malah menghancurkan bagian dari jiwa Voldemort yang terdapat di tubuhnya. Harry pun memasuki dunia lain (limbo), dimana ia bertemu Profesor Albus Dumbledore, yang menjelaskan kepadanya tentang Harry sebagai Horcrux dan bahwa kutukan Voldemort telah menghancurkan jiwanya yang berada di tubuh Harry. Harry memutuskan kembali hidup untuk mengalahkan Voldemort, namun ia berpura-pura sudah tewas. Voldemort kemudian membawa "mayat" Harry ke Hogwarts dan mendeklarasikan "kematian" Harry kepada pejuang-pejuang Hogwarts dan siapa saja yang menentangnya akan mati. Neville Longbottom menarik Pedang Godric Gryffindor dan menantang Voldemort dengan sebuah pidato. Pada saat yang sama, Harry mengungkapkan bahwa dirinya masih hidup, dan mulai berduel dengan Voldemort di sekitar sekolah. Nagini dipenggal dengan pedang Gryffindor oleh Neville, Di tempat lain, Molly Weasley membunuh Bellatrix Lestrange. Akhirnya, Voldemort mati setelah mencoba menggunakan Kutukan pembunuh Avada Kedavra terhadap Harry. Kutukan itu berbalik menyerang Voldemort sendiri setelah beradu dengan mantra pelepas senjata Harry - Expelliarmus. Harry menangkap tongkat itu. Setelahnya, Harry bergabung dengan kedua sahabatnya dan menjelaskan bahwa Tongkat Elder melindungi pemiliknya (Harry Potter sendiri) yang memenangkannya dari Draco Malfoy. Harry kemudian mematahkan tongkat itu dan membuangnya ke parit Hogwarts, melenyapkan kekuatan tongkat itu selamanya.
Dalam kisah di akhir buku, pada tahun 2017, 19 tahun setelah Pertempuran di Hogwarts, Harry dan Ginny Weasley telah menikah dan memiliki tiga anak bernama James, Albus Severus, dan Lily. Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi di Hogwarts. Ron dan Hermione juga menikah dan telah memiliki dua anak bernama Rose dan Hugo. Draco Malfoy memiliki anak bernama Scorpius. Mereka seluruhnya bertemu di stasiun kereta api King's Cross, untuk mengantar anak-anak mereka bersekolah ke Hogwarts. Di sana diungkapkan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit lagi setelah kekalahan Pangeran Kegelapan.
[sunting]Pemeran
·         Daniel Radcliffe sebagai Harry Potter[4]
·         Rupert Grint sebagai Ron Weasley[4]
·         Emma Watson sebagai Hermione Granger[4]
·         Helena Bonham Carter sebagai Bellatrix Lestrange[5]
·         Jim Broadbent sebagai Horace Slughorn [6]
·         Jamie Campbell Bower sebagai Gellert Grindelwald[7]
·         Robbie Coltrane sebagai Rubeus Hagrid[8]
·         Warwick Davis sebagai Filius Flitwick dan Griphook[9][10]
·         Tom Felton sebagai Draco Malfoy[11]
·         Ralph Fiennes sebagai Lord Voldemort[12]
·         Sir Michael Gambon sebagai Albus Dumbledore[13]
·         Brendan Gleeson sebagai Alastor "Mad-Eye" Moody[14]
·         Domhnall Gleeson sebagai Bill Weasley[15]
·         Richard Griffiths sebagai Vernon Dursley[16]
·         Ciarán Hinds sebagai Aberforth Dumbledore[17]
·         John Hurt sebagai Mr. Ollivander[18]
·         Stanislav Ianevski sebagai Viktor Krum[19]
·         Rhys Ifans sebagai Xenophilius Lovegood[20]
·         Jason Isaacs sebagai Lucius Malfoy[21]
·         Toby Jones suara kepada Dobby[22]
·         Dave Legeno sebagai Fenrir Greyback[23]
·         Matthew Lewis sebagai Neville Longbottom[24]
·         Andy Linden sebagai Mundungus Fletcher[25]
·         Evanna Lynch sebagai Luna Lovegood[26]
·         Simon McBurney suara kepada Kreacher[27]
·         Helen McCrory sebagai Narcissa Malfoy[28]
·         Bill Nighy sebagai Rufus Scrimgeour[29]
·         Gary Oldman sebagai Sirius Black[30]
·         James Phelps sebagai Fred Weasley[31]
·         Oliver Phelps sebagai George Weasley[31]
·         Clémence Poésy sebagai Fleur Delacour[32][33]
·         Chris Rankin sebagai Percy Weasley[34]
·         Miranda Richardson sebagai Rita Skeeter[35]
·         Alan Rickman sebagai Severus Snape[36]
·         Maggie Smith sebagai Minerva McGonagall [37]
·         Timothy Spall sebagai Peter Pettigrew[38]
·         Imelda Staunton sebagai Dolores Umbridge[39]
·         Natalia Tena sebagai Nymphadora Tonks[40]
·         David Thewlis sebagai Remus Lupin[41]
·         Julie Walters sebagai Molly Weasley[42]
·         Mark Williams sebagai Arthur Weasley[42]
·         Bonnie Wright sebagai Ginny Weasley[43]

0 Cerita KI GEDE ING SURO


KI GEDE ING SURO

Kompleks pemakaman kuno ini sekarang menjadi bagian dari jalur hijau (green barrier) PT Pusri. Di kompleks pemakaman yang masuk dalam wilayah administratif Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan IT II ini, terdapat delapan bangunan dengan jumlah makam keseluruhan 38 buah. Salah satu tokoh yang dimakamkan di kompleks pemakaman yang dibangun sekitar pertengahan abad XVI ini adalah Ki Gede Ing Suro. Ki Gede Ing Suro aalah putra Ki Gede Ing Lautan, salah satu dari 24 bangsawan (bekas Demak yang menyingkir ke Palembang setelah terjadi kekacauan di kerajaan Islam besar di Pulau Jawa itu.Kekisruhan ini merupakan rangkaian panjang dari sejarah kerajaan terbesar di Nusantara (setelah Sriwijaya), yaitu Majapahit.
Raden Fatah yang lahir di Palembang adalah putra Raja Majapahit terakhir, yaitu Brawijaya V. Raden Fatah yang lahir dari Putri Cina (ada yang menyebutnya Putri Champa) setelah istri Brawijaya itu dikirim ke Palembang dan diberikan kepada putra Brawijaya, Ariodamar atau Ario Abdillah atau Ario Dillah. Setelah dewasa, Raden Fatah bersama Raden Kusen, putra Ario Dillah
dengan Putri Cina dikirim kembali ke Majapahit. Oleh Brawijaya V, Raden Fatah diperintahkan untuk menetap di Demak atau Bintoro sedangkan adiknya lain bapak, Raden Kusen, diangkat sebagai Adipati di Terung. Pada masa menjelang akhir abad XV ini, Islam di Pulau Jawa mulai kuat.
Saat terjadi penyerbuan oleh orang Islam terhadap Majapahit, prajurit kerajaan Hindu itu kalah dan Raja Brawijaya V menyingkir hingga kemudian mangkat.
Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Majapahit. Setelah keruntuhan Majapahit, Sunan
Ngampel Denta (wali tertua dalam Walisongo) menetapkan Raden Fatah sebagai Raja Jawa menggantikan ayahnya. Tentu saja, dengan pemerintahan Islam. Raden Fatah, dibantu para wali, kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Surabaya ke Demak sekaligus menyebarkan agama Islam di daerah ini. Atas bantuan penguasa dan rakyat di daerah yang sudah lepas dari Majapahit, antara lain Tuban, Gresik, Jepara, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak sekitar tahun 1481 M. Dia menjadi raja pertama dengan gelar Jimbun Ngabdur-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata Agama.
Raden Fatah yang wafat sekitar tahun 1518 M, digantikan putranya, Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang wafat tahun 1521 M. Pengganti Pati Unus adalah Pangeran Trenggono (wafat tahun 1546 M). Wafatnya Sultan ketiga Demak ini merupakan awal dari kisruh
berkepanjangan di kerajaan Islam yang sempat berpengaruh besar di Nusantara itu. Tahta kerajaan menjadi rebutan antara saudara Trenggono dengan putranya. Saudaranya, yang dikenal sebagai Pangeran Seda Ing Lepen dibunuh putra Trenggono, Pangeran Prawata. Prahara berlanjut dengan pembunuhan terhadap Prawata oleh Putra Seda Ing Lepen, Arya Penangsang atau Arya Jipang pada tahun 1549 M.
Menantu Trenggono, Pangeran Kalinyamat, juga dibunuh. Arya Penangsang akhirnya wafat dibunuh Adiwijaya menantu Trenggono yang terkenal sebagai Jaka Tingkir, Adipati penguasa Pajang ini kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Pajang.
Dengan demikian, berakhir pulalah kekuasaan Demak pada tahun 1546 M setelah berjaya selama 65 tahun. Akibat kemelut itu, sebanyak 24 orang keturunan Sultan Trenggono (artinya, keturunan Raden Fatah juga) hijrah ke Palembang di bawah pimpinan Ki Gede Sido Ing Lautan. Setelah Ki Gede Sido Ing Lautan yang sempat berkuasa di Palembang wafat, digantikan putranya, Ki Gede Ing Suro. Karena raja ini tidak
memiliki keturunan, dia digantikan saudaranya, Ki Gede Ing Suro Mudo

Sabtu, 12 Januari 2013

0 contoh descriptive text


Cleopatra
One of the most famous women in world history was Cleopatra VII. She was the brilliant and beautiful last Pharaoh of Egypt. Historically, she became queen of Egypt in 51 B.C. at the age of eighteen. She was a Ptolemy, descended from one of Alexander the Great's generals. When she was twenty-one, Julius Caesar became her lover. Seven years later she met Antony. The romantic tragic relationship continued until they died by suicide in 30 B.C.

Cleopatra was legendary. She was famous not only for her breathtaking beauty but also for her great intellect. She had brown eyes and they were shaped like cat eyes. Her skin was in fact an olive shade, darker than Hollywood actress Liz Taylor who potrayed her in the film 'Cleopatra' in 1963. She had medium dark brown hair, about to the middle of her shoulder blades. She had a reputation as an extraordinarily sensuous woman.

Cleopatra was a woman of remarkable poise and unusual intelligence. She was highly educated. She spoke proficiently in nine languages and also skilled in mathematics. She is often considered to be a stunning seductress though she was studying to be a nun. Cleopatra was a very intelligent queen and a politician with a great charisma.
 

Nadila Dela's BLOG Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates